Soe Hok Gie “Dari Mandalawangi ke Puncak Mahameru”

“Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi. Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua”.

 

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah. (Mandalawangi Pangrango, Soe Hok Gie, 19 Juli 1966)

 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung. (Soe Hok Gie dalam artikel “Menaklukkan Gunung Slamet”)

 

Berbicara tentang Soe Hok Gie bukan saja mengenai Sejarah, pemikiran dan sikapnya melalui tulisan, dalam mimbar diskusi, rapat senat mahasiswa sampai berdiri di barisan terdepan dalam demonstrasi menentang rezim Soekarno.. Disisi lain ia adalah seorang sosok yang naturalis, seorang yang haus akan tantangan. Kecintaannya akan mendaki gunung tergambarkan pada sosok dirinya. Ia tergolong aktivis yang unik, yang lebih memilih mendaki gunung dari pada berpolitik praktis, menyendiri ke puncak gunung agar bisa keluar dari begitu banyak penderitan dan kegelisahan pribadinya. Bagi Soe Hok Gie, gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang. Ia juga mengatakan: “Hanya di puncak gunung aku merasa bersih.” Tapi lebih dari itu, kecintaannya pada alam adalah bagian penting dari kejiwaan cinta-Tanah Airnya. 

 

Lembah Mandalawangi, Pangrango merupakan tempat yang bersejarah bagi Soe Hok Gie, dimana di Mandalawangi merupakan salah satu lembah yang berada di gunung pangrango, Pangrango menjadi salah satu gunung favoritnya untuk melepas kepenatan yang ada di jakarta. Dan menciptakan inspirasi-inspirasi dari setiap tulisannya.

Selain itu Gie merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang pada awalnya bernama Ikatan Pecinta Alam Mandalawangi, yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m pada tahun 1966. Dalam pendakian Gn. Slamet ini Gie menyatakan bahwa, “Hutan-hutan Gunung Slamet membosankan sekali. Tidak seindah seperti Gunung Pangrango ataupun menakjubkan seperti Gunung Merapi. Jalannya panjang dan berliku – liku. Pendakian – pendakian yang terjal pada hari itu hampir tak dijumpai.

Selepas dari pendakian Gn. Slamet, Gie menyampaikan pernyataannya melalui sebuah media cetak nasional. Pernyataan tersebut adalah cermin tingkat kesadaran dan kecerdasan Soe Hok Gie sebagai seorang mahasiswa pencinta alam dalam berbangsa dan bernegara.

 

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami, Kami katakan bahwa : Kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat Pertumbuhan jiwa yang sehat daripemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat Karena itu Kami naik gunung.”

 

Kata-kata tersebut menyiratkan kecintaan Soe Hok Gie terhadap tanah air dan rakyat Indonesia, dia menjelaskan bahwa mengenal Indonesia sebenarnya telah telah dengan rakyatnya; tetapi Soe Hok Gie ingin menekankan pada aspek rakyatnya,  harus lebih diutamakan rakyatnya; kata secara dekat, lebih kearah jiwa rakyat Indonesia; sehingga sikap mencintai kepada Tanah Air dapat tumbuh dan bukannya sikap mencintai diri sendiri atau kelompok sendiri.

Kemudian pada 15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Dalam harapan pendakian Semeru kali ini Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi puncak Mahameru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup gas beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

 

Banyak puisi dan kata-kata terakhir yang ia ciptakan sebelum maut menjemputnya, seperti ketika dia berseloroh, “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras…diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil…orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Soe Hok Gie memang mati muda. Tapi semangatnya tetap hidup dan memberi inspirasi pada banyak orang. Sampai saat ini, puisi Mandalawangi-Pangrango menjadi puisi wajib bagi para pendaki gunung, Selain itu Lembah Mandalawangi dan Puncak Mahameru merupakan tempat yang wajib dicapai oleh setiap pemuda, dalam hal ini bukan hanya sebagai sebuah prestise tertinggi yang akan dicapai akan tetapi kita akan merasakan perjuangan sosok dan jiwa Soe Hok Gie dikedua tempat tersebut.

(Mochammad Insan. Bandung 9 Agustus 2012)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s